Cermati Dulu Secara Seksama ...
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Prakata pada blog ini, maka pada post kali ini PolitikPedia
menghadirkan sebuah rangkuman dari sejumlah tulisan yang semoga saja bisa
memberikan manfaat dalam mencermati kecenderungan politik dan bagaimana kondisi
yang lebih ideal dapat tercapai melalui pemahaman akan politik dan karakteristik para kandidat
yang akan dipilih pada perhelatan politik di tanah air pada tahun ini dan tahun
selanjutnya.
Menurut
Harold D. Lasswell, politik adalah soal siapa mendapatkan apa, kapan, dan
dengan cara bagaimana. Dalam banyak kasus yang terjadi, politik atau kekuasaan
sering dipraktekan sebagai arena atau alat untuk mencari dan mempertahankan
kekuasaan.
Sehingga,
tidaklah mengherankan kalau politik atau kekuasaaan sering bermakna kotor atau
menghalalkan segala cara sebagaimana yang dijabarkan oleh Niccolo Machiavelli
dalam bukunya yang terkenal: Il Principe (Sang Pangeran).
Machiavelli sendiri memang membenarkan penggunaan kekerasan dan bukan lewat hukum demi mempertahankan kekuasaan. Namun demikian, Macchiavelli menegaskan bila hal itu tidak dilakukan dalam sebuah sistem pemerintahan Republik.
Machiavelli sendiri memang membenarkan penggunaan kekerasan dan bukan lewat hukum demi mempertahankan kekuasaan. Namun demikian, Macchiavelli menegaskan bila hal itu tidak dilakukan dalam sebuah sistem pemerintahan Republik.
Sementara
itu, di masyarakat kita masih melekat anggapan bahwa politik itu sesuatu yang
tercela seperti jabaran di atas karena pada kenyataannya memang banyak
menghalalkan segala cara demi memegang kekuasaan yang dilakukan oleh para penganut Machiavellism. Ketika musim pemilu, banyak
yang obral janji sana sini, beradu argumen, visi dan misi. Tetapi setelah
memperoleh kekuasaan bagaimana?
Namun
hal demikian merupakan pandangan masyarakat yang harus kita luruskan agar
pandangan seperti itu tidak membuat masyarakat menjadi apatis terhadap politik
dan hak-hak politiknya.
Mengapa
demikian? Kenaikan harga-harga merupakan salah satu contoh dari keputusan
politik. Jadi hal ini tentunya menuntut kecermatan para konstituen ketika menentukan pilihan mereka pada sejumlah kandidat yang ditawarkan yang
akan menentukan bagaimana sebuah unit politik seperti negara, pemerintah
daerah, dan lain-lain dijalankan bila si A, si B, si C atau yang lainnya
memperoleh kekuasaan.
Karena
perlu disadari, naluri politik itu harus dibangun pada pribadi masyarakat agar
mereka tahu bahwa orang yang terjun ke dunia politik tidak semuanya semata-mata hanya
untuk ingin memegang jabatan kekuasaan, tetapi ada juga yang niatnya baik ingin
merubah keadaan dari keadaan yang kacau menjadi lebih baik.
Ada
sejumlah nilai yang perlu dilakukan diantaranya adalah menumbuhkan daya pikir
kritis masyarakat, terutama menciptakan budaya kritis terhadap pemerintah
sebagai representasi kekuasaan negara. Sikap kritis bertujuan untuk mengontrol
pelaksanaan pemerintah agar sesuai dengan kehendak rakyat, dan bukan justru
berbalik menindas rakyat.
Bila
ternyata kecenderungan yang terjadi dalam pelaksanaan kehidupan politik
pemegang kekuasaan dewasa ini (individu maupun partai berikut koalisinya) lebih
sering terasa berwujud penindasan dan jauh dari keadilan dan kemaslahatan, maka
para konstituen paling tidak bisa mempertimbangkan alternatif lainnya agar
sebagaimana dijelaskan pada bagian pembuka tulisan ini dapat tercapai. Karena
mengutip Profesor Rocky Gerung: "Salah pilih itu sial !!"
karena besarnya harga yang harus ditanggung, tidak saja untuk saat ini, tetapi
juga untuk kehidupan generasi selanjutnya.
Image:
jarabethrush.files.
Ref: academia.edu wikipedia.org rizkie-library prisma-news
loading...



ConversionConversion EmoticonEmoticon