Fenomena Pilkada Mutakhir dan Potensi Efek Sistem Pemilihan Langsung
Post ini merupakan sekuel dari post sebelumnya yaitu dalam melihat fenomena menjelang perhelatan Pilkada tahun ini di 171 wilayah di Indonesia.
Seperti diketahui, sejak sistem pemilihan langsung diterapkan dalam kehidupan demokrasi di tanah air, maka sejak saat itulah kita melihat berbagai bentuk pencitraan dan tindakannya.
Pada pencitraan tersebut, figur yang dicalonkan tampil dalam berbagai kemasan layaknya produk industri untuk bisa menarik minat para pemilih yang menjadi target market dalam industri.
Para figur atau kandidat kontestan tersebut banyak yang menyewa jasa para konsultan politik layaknya event organizer yang akan membentuk pencitraan para figur tersebut. Maka jadilah para figur tersebut seperti para badut dan robot yang harus mau disuruh untuk melakukan apa saja demi branding seperti berfoto-foto sedang menyapu, menjadi tukang bengkel dan sebagainya.
Para konsultan tersebut tentu saja bukanlah para individu yang tidak mengerti apa yang dilakukan karena mereka sangat sangat paham dalam melihat mayoritas latar belakang para calon pemilih yang menjadi target market mereka.
Sebagian calon pemilih mungkin melihat aksi-aksi atau disebut apalah yang ditampilkan para figur kandidat tersebut sebagai sesuatu yang konyol bin lebay, tetapi sebagian calon pemilih justeru melihatnya dengan perspektif berbeda.
Bila calon pemilih pertama mempertanyakan apa maksud dari lakon-lakon yang dimainkan oleh para konsultan kepada figur-figur kandidat yang bila pertanyaan tersebut disederhanakan: Mau mencari seorang pemimpin kok justeru berlakon menjadi pedagang kecil, dsb, dsb? Apakah bila terpilih nantinya mau melakukan hal-hal dimaksud?
Selain itu, para figur kandidat juga tampil melakukan beberapa tugas teknis dalam suatu unit politik. Pertanyaannya: Bukankah dalam manajemen diketahui adanya Planning, Directing, Controlling, dan Organizing? Jadi untuk masalah teknis tinggal diatur sebagaimana fungsi-fungsi manajemen tersebut?
Namun berbeda dari perspektif calon pemilih pertama, mereka justeru terpesona dengan tampilan-tampilan dimaksud yang seolah merepresentasikan kehidupan mereka. Tak menjadi soal apa-apa saja program yang ditawarkan oleh sang figur kandidat. Yang penting, figur kandidat mau tampil mewakili kehidupan mereka sesehari dan ini bisa memberikan loyalitas super alias para pendukung garis keras :)
Demikianlah salah satu fenomena sejak sistem pemilihan langsung diterapkan yang selain membawa efek loyalitas garis keras sehingga rawan menciptakan konflik horizontal, juga berbiaya besar yang juga berpotensi membawa efek negatif lainnya.
Karena berbiaya besar, bisa jadi sangat rawan untuk dimanfaatkan oleh para pengusaha rakus dengan mensponsori beberapa figur yang menuruti motif ekonomi mereka. Mereka ibarat bandit yang memiliki peluang untuk memuaskan keserakahan mereka. Lalu kalau sudah begini, apakah akan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi para konstituen dan unit politik yang dipimpinnya?
image: http://moomoosheep.co.uk
loading...



ConversionConversion EmoticonEmoticon