![]() |
| Quote dari Presiden ke-26 Amerika Serikat |
Proporsional dong ah ...
Post kali ini sebenarnya merupakan sekuel dari post terdahulu menyoal fenomena pembelaan dan penyangkalan yang disampaikan oleh para pendukung garis keras dari kepala desa Mantap Jaya sejak petahana naik tahta lebih dari 3 tahun nan lalu.
Post ini tertunda akibat adanya peristiwa kartu yang sangat menarik sekaligus sangat bersejarah di dunia perpolitikan di desa Mantap Jaya karena seingat PolitikPedia, inilah kali pertama terjadinya fenomena ini. Yang sebelum-sebelumnya ngapain aja ya? Entahlah :)
Well ... Baiklah kita mulai membahas post ini yaitu dalam melihat fenomena pembelaan dari para pendukung garis keras petahana kepala desa Mantap Jaya saat mana kebijakan junjungan mereka dikritik ataupun sekedar dipertanyakan oleh beberapa pihak, terutama di dunia maya yang kabarnya petahana memiliki para loyalis, baik yang berbayar atau pun yang bukan.
Secara garis besar, PolitikPedia menyimpulkan cara pembelaan (baca: ngeles) dari tim hore alias pendukung garis keras petahana Mantap Jaya:
- Apa yang telah kamu perbuat untuk negara? (sudah dibahas di sini)
- Pihak penentang atau pengkritik seringkali juga dinilai dan digeneralisasi sebagai pihak pendukung kontestan lainnya pada pemilihan yang telah lalu
- Pihak pengkritik seringpula dianggap orang yang tidak bersyukur, bisanya hanya nyinyir. Biasanya ditambahi dengan ceramah atau khotbah moral lainnya bak seorang motivator. Selain itu, para pengkritik atau mempertanyakan kebijakan petahana seringkali pula dianggap sebagai penyebar ujaran kebencian (Hate Speech).
Post kali ini menggarisbawahi point ketiga dari tiga point di atas dimana menurut PolitikPedia cukup menggelitik. Alasannya? Dua hal tersebut berada di dua ranah yang berbeda. Sekarang apa coba kaitan diantara keduanya dan bagaimana pula untuk menarik kesimpulannya?
Bila kita sederhanakan dalam sebuah silogisme maka:
"Pengkritik mempertanyakan dan/atau mengkritik kebijakan politik yang berdampak bagi semua orang di setiap unit politik dimana kebijakan itu diambil" (Premis Mayor) ;
"Kita hidup harus bersyukur, jadi tak perlulah neko-neko terhadap kebijakan yang ada dari penyelenggara pemerintahan (dari level desa hingga negara)." (Premis Minor).
Sementara untuk menjawab soal penyangkalan yang menyatakan generalisasi bahwa pihak si pengkritik adalah pihak pembenci (haters), maka PolitikPedia menganggap jawaban cerdas dari Profesor Rocky Gerung yang PolitikPedia sertakan di bawah ini sebagai jawabnya.
Intinya, kritik terhadap kebijakan pemerintah di unit politik manapun (kecuali yang menganut sistem Monarkhi ya) bukanlah ditujukan untuk menyerang secara personal karena kebijakan itu berdampak bagi semua orang yang berada di unit politik tersebut, baik kini dan untuk masa yang akan datang.
![]() |
| Pernyataan Prof. Rocky Gerung |
So? Mendukung boleh, tetapi tempatkanlah segala sesuatunya secara proporsional ... :)
image:
i.pinimg.com
loading...




ConversionConversion EmoticonEmoticon