Kenapa Harus Alergi dengan Politik?

Kenapa Harus Alergi dengan Politik?

 

 


Politik itu ...

Indonesia pada tahun 2018 ini memasuki tahun politik seiring dengan pelaksanaan Pilkada dan Pilpres pada tahun depan, walaupun sebenarnya sejak beberapa tahun mutakhir pembicaraan soal politik ramai dalam kehidupan sehari-hari setelah terjadinya reformasi politik pada dua dekade lalu.  

Post kali ini menggarisbawahi tentang sikap apatis sebagian warga negara terhadap politik. Mereka menilai politik itu suatu monster jahat. Apakah memang demikian? Jawabannya bisa ya, bisa tidak karena hal itu tergantung dari siapa yang memegang kekuasaan dan beberapa faktor lainnya. 
  
Bila kita memahami pengertian dari kata politik secara umum, tentunya hal di atas tak seharusnya terjadi karena sejatinya politik adalah interaksi setiap orang dalam suatu unit politik untuk mencapai tujuan bersama dalam satu unit politik tersebut yang di Indonesia mestinya selaras dengan konsensus bersama yaitu UUD'45 dan Pancasila. Jadi bukan hanya menjadi tujuan dan kepentingan dari figur atau kelompok tertentu saja.   

Secara etimologi, kata politik berasal dari kata Polis (Yunani) yang berarti negara-kota. Pada masa itu, masyarakat Yunani  saling berinteraksi untuk mencapai kesejahteraan dan kebaikan bersama sebagaimana yang dijelaskan dalam teori klasik Aristoteles.  

Selain itu, bila dilihat dari perspektif yang berbeda maka secara umum: Politik adalah hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan pemerintahan dan negara; merupakan kegiatan yang diarahkan untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan di masyarakat; merupakan segala sesuatu tentang proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik; merupakan seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional.

Kembali ke bahasan soal sikap apatis yang kerap kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari barangkali disebabkan oleh beberapa faktor:  

  1. Sikap tak mau tahu dan cari aman. Makanya kita sering mendengar kata-kata: Gak usah bahas politiklah. Daripada begini dan begitu. Siapa sih loe? Atur sajalah hidupmu dulu ... bla .. bla .. bla ... :) Padahal kenaikan harga dan berbagai masalah kebijakan yang ada adalah berasal dari keputusan politik sebagaimana yang disampaikan oleh seorang Budayawan Jerman, Bertolt Brecht. 
  2. Takut terganggu kepentingannya karena berafiliasi dengan partai politik tertentu, 
  3. karena terlalu buta menjadi pendukung seorang figur atau partai tertentu. 

Jangan-jangan faktor-faktor di atas juga dengan sengaja diciptakan dan dikondisikan oleh pihak-pihak tertentu demi pengamanan tujuan mereka? :) 
 
Agar hal-hal di atas tidak terjadi, maka partisipasi politik, minimal mencari tahu berbagai informasi terkait dan membagikannya akan sangat berguna bagi kita dalam melihat suatu fenomena dan terhindar dari penggiringan opini.

image: lh3.googleusercontent.com


loading...
Previous
Next Post »
Thanks for your comment